Umat Islam di berbagai belahan dunia saat ini tengah menghadapi problem-atika dan tantangan-tantangan yang amat serius. Umat Islam seolah sedang menjadi bulan-bulanan media massa dan propaganda Barat, tak terkecuali umat Islam Indonesia. Tuduhan dan stereotipe Barat dengan media massanya yang tendensius atas Islam dan umatnya belum dan mungkin tidak akan pernah berhenti. Kaum teroris, kaum fundamentalis, gerombolan barbar dan stereotipe lain atas umat Islam selalu mereka tuduhkan. Bahkan ajaran Islam sering dituduh sebagai anti demokrasi, anti-hak asasi manusia, anti kemajuan, kolot, tradisonal dan tuduhan-tuduhan lain yang tidak berdasar.
Dengan kata lain, Islam dan umatnya saat ini sedang dizalimi secara sistematis oleh berbagai kekuatan dunia, mulai dari kekuatan militer, kekuatan ekonomi, kekuatan media massa, serta kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi global. Secara sangat sistematis, kekuatan-kekuatan global tersebut mampu menggiring dan membentuk gambaran, image atau citra serba negatif atas Islam dan umatnya.
Menghadapi kondisi dan situasi yang sangat tidak menguntungkan itu, kita sebagai muslim harus merasa terpanggil untuk maju dan menunjukkan komitmen kita pada ajaran kita sendiri serta pada sesama umat Islam. Tanpa komitmen yang sungguh-sungguh untuk menghadapi berbagai tantangan dan problematika umat tersebut di atas, maka umat Islam akan sulit keluar dari kondisi dan situasi seperti saat ini.
Lalu, komitmen seperti apa yang diharapkan dari umat Islam, sehingga Islam dan umatnya tidak dipandang serba negatif oleh umat-umat yang lain?
Setidaknya ada dua hal yang barangkali relevan untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut di atas. Pertama, kita perlu meningkatkan komitmen kita untuk menolong “agama” Allah SWT ini. Kedua, meningkatkan komitmen untuk menolong dan melindungi saudara-saudara kita sesama muslim.
A. Menolong “Agama” Allah
Komitmen untuk menolong “agama” Allah, barangkali lebih tepat disebut sebagai komitmen untuk meninggikan kalimah-kalimah Allah (لاعلاء كلمات الله). Hanya dengan memiliki komitmen untuk meninggikan agama “Allah” inilah, maka Allah SWT akan menolong dan membantu kita.
Firman Allah SWT:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (محمد:7)
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad:7)
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيز ٌ(الحج:40)
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Al-Hajj:40).
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh umat Islam dalam menolong “agama” Allah, di antaranya:
1. Mempelajari secara sungguh-sungguh firman Allah SWT serta Sunnah Rasulullah saw.
2. Melaksanakan dan mengamalkan segala perintah Allah, serta menjauhi segala cegahan dan larangan-Nya.
3. Menyiarkan dan mendakwahkan segala kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya kepada segenap umat manusia, sebagai realisasi dari amar ma’ruf nahy munkar.
4. Menyemarakkan kehidupan masyarakat, khususnya lingkungan kita dengan semarak iman, Islam dan ihsan.
5. Melakukan pembelaan terhadap segala penyimpangan atas ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Dengan melaksanakan komitmen-komitmen tersebut di atas, insya Allah, kita akan memperoleh pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT, sebagaimana dijanjikan di dalam firman-Nya di atas. Setelah kita memperoleh petolongan dan perlindungan-Nya, maka tiada sesuatu pun yang dapat menghina, mencemoohkan, menindas, bahkan mengalahkan kita sekali pun. Inilah janji Allah SWT kepada kita semua:
إِنْ يَنْصُرْكُمْ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلْ الْمُؤْمِنُونَ (ال عمران:160)
“Jika Allah menolong kamu, maka tiadalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kapada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS Ali Imran: 160).
Kalau sementara ini kita dihina, dicemooh, ditindas dan dijadikan bulan-bulanan oleh kekuatan global, dengan Barat sebagai motor penggeraknya; barangkali karena selama ini kita lalai terhadap ajaran dan kebenaran Allah dan Rasul-Nya.
Untuk itu, marilah kita berlomab-lomba untuk menolong “agama” Allah, sehingga kita memperoleh pertolongan dan perlindungan dari-Nya. Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمْ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ (البقرة:214)
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (QS Al-Baqarah: 214).
B. Menolong Sesama
Adalah fakta bahwa saat ini umat Islam sedang mengalami banyak sekali masalah dan cobaan. Mereka yang juga saudara kita terhimpit oleh kebodohan, kemiskinan, ketertindasan, keterpurukan sosial, politik, dan ekonomi. Sebagian dari saudara kita sedang bergelut dengan kelaparan dan kekurangan obat-obatan akibat diembargo oleh PBB (baca: Amareika Serikat dan sekutunya), sebuah lembaga dunia yang konon bertujuan menyejahterakan umat manusia di dunia. Bahkan negara kita sendiri menghadapi ancaman embargo AS, karena terbunuhnya tiga staf UNHCR dalam suatu peristiwa kerusuhan. Tindakan AS yang mengancam kita untuk melakukan embargo hanya karena (tanpa mengecilkan arti) “tiga orang staf UNHCR” yang terbunuh amat sulit dimengerti oleh setiap orang yang berakal sehat. Bukankah, selama ini PBB, khususnya AS seolah menutup mata atas hilangnya ribuan mayat umat Islam yang terbunuh di Ambon, Maluku, Irak, Kosovo, serta di Palestina beberapa hari yang lalu?
Menghadapi berbagai ketidakadilan yang dialami umat Islam, kita perlu menunjukkan komitmen kedua kita, yaitu kesiapan kita untuk menolong sesama umat Islam. Sebab hanya dengan menolong sesama, kita akan memperoleh pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ *
“Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang meringankan kesusahan orang mukmin dari kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya dari kesusahan di hari kiamat. Barang siapa yang mempermudah atas orang yang susah, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aib)-nya di dunia dan akhirat. Dan Allah selalu melindungi hamba-Nya, selama hamba itu melindungi saudaranya”.
Rasulullah juga menyuruh kita untuk menolong orang yang dizalimi, sekaligus menolong orang yang berlaku zalim.
لَا بَأْسَ لِيَنْصُرِ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَإِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نُصْرَةٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ *
“Tiada halangan seseorang menolong saudaranya yang zalim atau yang dizalimi. Jika seseorang berbuat zalim, maka cegahlah ia, sebab itulah pertolongan yang dibutuhkannya. Dan jika seseorang dizalimi, maka bantulah ia”
Dalam riwayat yang lain juga disebutkan:
عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيَنْصُرِ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَإِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نُصْرَةٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ *
“Dari Abu Zubair dari Jabir, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah seseorang menolong sudara yang zalim atau yang dizalimi. Jika seseorang berbuat zalim, maka cegahlah ia, sebab itulah pertolongan yang dibutuhkannya. Dan jika seseorang dizalimi, maka bantulah ia”
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَصَرْتُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَكُفُّهُ عَنِ الظُّلْمِ فَذَاكَ نَصْرُكَ إِيَّاهُ
“Dari Anas r.a. Rasulullah saw bersabda: Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi. Kami bertanya, wahai Rasulallah, kami (biasa) menolong orang yang dizalimi, bagaimana cara menolong orang yang zalim? Beliau menjawab, “hentikanlah ia dari perbuatannya yang zalim, maka seperti itulah pertolongan yang dibutuhkan olehnya”.
Mengapa demikian? Karena umat Islam tidak hanya dizalimi oleh orang-orang non-muslim, tetapi juga dizalimi oleh sesamanya yang juga muslim. Orang Islam yang selalu mengejar kepentingan dirinya sendiri, kepentingan politik dan kekuasaan, kepentingan ekonomi, kepentingan kelompok dan kepentingan-kepentingan lainnya; tidak jarang tega menindas dan menzalimi saudara-saudaranya seiman.
Tidak sedikit dari kita yang merasa tidak rela jika agamanya sendiri, umatnya sendiri dan sudara-saudara seimannya sendiri maju dan memiliki kekuatan di bidang politik dan ekonomi. Mereka tidak mau jika umat Islam melaksanakan hukum syari’atnya sendiri. Mereka tidak mau menjalin kerjasama sosial, politik dan ekonomi dengan sesama muslim. Mereka lebih senang mendekati dan menjalin kerjasama dengan “pihak lain”. Mereka itulah yang barangkali tepai dijuluki sebagai “penghalang” (hijab) kemajuan orang-orang Islam.
اَلاِسْلاَمُ مَحْجُوْبٌ بِالْمُسْلِمِيْنَ
Mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam golongan mereka. Semoga!
Monday, July 2, 2007
Kepemimpinan dan Aklak al-Karimah
Dalam masyarakat tradisional yang cenderung tribal dan budaya politik massa, produk politik melalui proses sesuai aturan yang ada, bisa dimentahkan tirani massa jika merugikan patronnya (pelindung atau penyokong). Sang patron sendiri dengan gagah mencari dasar pembenar kliennya itu dari nilai primordial yang hanya bisa dipahami logikanya sendiri. Dinamika politik di negeri ini, termasuk di daerah kita, bagai potret pertengkaran anak-anak kecil di pinggir jalan yang berebut benar sendiri tanpa kepastian etik-rasional. Pihak yang kepentingannya tak terakomodasi, mengartikannya sebagai kesalahan pihak lain. Politik menjadi cermin kalah-menang dan kuat-lemah, bukan suatu "permainan kompromi" yang bersumber dari akhlak dan tindakan rasional.
Gejala itu muncul di tengah kekerasan dan konflik horizontal, dan klaim-klaim sepihak elite politik di tingkat nasional atau di tingkat daerah tentang fungsi dan hak-haknya. Debat politik seperti tak pernah habis ketika dilakukan tanpa agenda yang jelas dan tujuan terukur. Dinamika politik, konflik dan kekerasan bagai terperangkap dalam suatu lingkaran setan seperti debat anak kecil tentang apa yang paling tinggi di antara langit dan rembulan, apa yang paling dulu ada di antara ayam dan telur. Perilaku politik menjadi sebuah tontonan menarik bagaikan sebuah fragmen ketoprak atau ludruk humor yang sebenarnya berbahaya bagi para penontonnya.
Kelemahan kita yang religius dengan mayoritas penduduk Muslim ini ialah ketidaksediaan melakukan kritik terhadap diri sendiri. Hal ini mungkin berkaitan dengan citra diri dalam kebenaran teologis yang mutlak yang secara otomatis disandang seseorang saat menyatakan diri bertindak atas nama Islam dan atas nama Tuhan. Banyak pihak lalu menjadikan massa sebagai pembenar tindakan dan pengesah kedudukannya yang tak bisa dikritik dan diperdebatkan terbuka. Hal ini menyebabkan kita ini sulit memahami akar penyebab berbagai krisis yang melanda kita sejak beberapa tahun lalu.
Sesudah beberapa tahun reformasi, politik nasional dan keagamaan, memasuki babak baru yang enak ditonton dan diberitakan, namun amat melelahkan. Filsuf bahasa terkemuka, Ludwig Witgenstein menyatakan, ilmu tak lebih sebagai permainan bahasa (language game). Jika permainan bahasa dilakukan dengan aturan dan kriteria jelas, politik di negeri ini sekadar "debat kusir" pembenar diri dan sejumlah konsesi politik (juga ekonomi) yang diklaim sebagai hak sepihak.
Masyarakat pun seperti terpola ke dalam belahan politik yang tak jelas.
Politik yang seharusnya menjadi permainan cantik tentang usaha mencapai kompromi untuk tujuan bersama, berubah menjadi politik adu kekuatan. Politik yang seharusnya sebagai permainan meyakinkan banyak pihak, berubah menjadi permainan melakukan tirani hukum dan tirani massa. Tanpa keyakinan, politik adalah seni kegagalan mencapai tujuan di suatu ruang waktu, dan seni membuka ruang baru bagi keberhasilan di saat lain, politik akan berubah menjadi adu tinju dan kekerasan atas nama kebenaran sepihak.
Akibatnya sangat mudah ditebak. Perang kekuatan massa menjadi suatu trend tersendiri dalam rangka mencapai tujuan politik dan kekuasaan. Lalu, dalam menghadapi situasi yang demikian itu, apa yang harus kita kedepankan?
Jawaban terhadap pertanyaan itu sebetulnya mudah, apalagi sebagai Muslim kita memiliki sumber acuan yang mumpuni dan adiluhung. Mengapa kita tidak kembali kepada sumber utama kita yang agung, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah?
Pertama-tama kita seharusnya seharusnya menjadikan orientasi hidup dan objek pengabdian kita hanyalah kepada Allah SWT semata. Kita telah meyakini dan sepakat bahwa kepada Allah SWT-lah orientasi hidup dan tujuan final dari pengabdian kita semua. Oleh karena itu, politik mesti kita jadikan "sarana" atau "instrumen" untuk mencapai tujuan akhir dari hidup ini, yakni Allah SWT.
"Sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kita akan kembali kepada-Nya," begitu bunyi firman Tuhan. Maka, Allah SWT adalah asal dan tujuan hidup dan kehidupan kita, bahkan seluruh makhluk.
Oleh karenanya, kesadaran akan politik yang tiada lain adalah sarana atau instrumen untuk mengabdi kepada Allah, jelas mengandung arti bahwa, politik yang diekspresikan para politisi, lebih-lebih politisi muslim, mesti berangkat dari komitmennya pada tauhid, kepada Allah. Maka, tujuan yang ingin dicapai pun bukanlah “kekuasaan demi kekuasaan”, atau pencapaian target politik tertentu, melainkan sekadar sarana untuk mencapai tujuan politik yang sebenarnya, yakni pengabdian kepada Allah. Dengan kata lain, politik harus ditegakkan di atas prinsip-prinsip tauhid, takwa dan landasan al-khuluq al-karim. Karena, politik tiada lain adalah instrumen untuk mengembangkan ketakwaan kepada Allah.
Dari sini, tauhid, takwa dan al-khuluq al-karim menjadi kata kunci utama dalam aktivitas politik Muslim. Jadi, kalau seseorang (politisi) betul-betul mengikuti etika politik yang bersumber dari ketakwaan kepada Allah SWT (takwa), bertauhid tauhid (sikap pasrah akan keesaan Tuhan dalam keseluruhan hidup), dan berlandaskan al-khuluq al-karim, maka akan menghasilkan sikap-sikap luhur dalam berperilaku dan dalam berdemokrasi. Dengan kata lain, dengan menjadikan paradigma agama (tauhid, takwa dan al-khuluq al-karim) sebagai bekal politik, maka akan lahir tipe-tipe politisi yang demokratis, yang selalu menghargai tidak saja kawan tetapi juga lawan, yang selalu toleran, yang selalu mengedepankan etika, yang selalu menjunjung tinggi semangat inklusivisme di tengah pluralitas SARA.
Dalam perjuangan menegakkan demokrasi (sosial, ekonomi, maupun politik) misalnya, politisi ini akan berpijak pada kesadaran diri-spiritual yang transenden (Islam, Allah SWT). Ketika demokrasi di Barat kering dari cahaya spiritual-keagamaan, maka model demokrasi yang hendak dikonstruksi oleh politisi semacam ini, mungkin identik apa yang oleh Sir Muhammad Iqbal dinamakan "demokrasi-spiritual," yakni demokrasi yang dijiwai oleh kesadaran spiritual-transenden manusia.
Oleh karena itu, takwa memegang kunci pokok dalam aktivitas politikseorang Muslim. Lalu, bagaimana jiwa dan spirit takwa ini inheren dalam aktivitas politik dan kekuasaan manusia? Prof Dr Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, mengatakan bahwa takwa jangan selalu diartikan takut, seperti yang diartikan oleh orang-orang dahulu, sebab takut hanyalah sebagian kecil arti takwa. Maka, Hamka pun menggambarkan aspek yang lebih positif dalam melihat arti takwa. Yakni, dalam takwa itu terkandung sikap-sikap dan perasaan-perasaan positif (seperti cinta, kasih, harap-harap cemas, ridla, sabar dan sebagainya) kepada Allah SWT; di mana kita merasakan kehadiran Allah dalam batin kita, sehingga kita pun selalu dapat berkomunikasi dengan-Nya. Tuhan terasa begitu dekat dan ada bersama kita, sebagaimana terefleksikan dalam firman-Nya yang sangat populer: ان الله معنا (sesungguhnya Allah bersama kita).
Itu sebabnya, perasaan takwa itu mempunyai efek yang sangat mendalam, baik secara politik, yaitu pengawasan melekat dalam aktivitas politik kita sehari-hari, maupun efek secara psikologis yang membuat kita menyatu, dan menyelami keterkaitan psikologis kita secara langsung dengan Allah SWT melalui hati, jiwa.
Karenanya, dalam aktivitas politik manusia, takwa bisa dimaknai sebagai God's Consciousness (sebagaimana rumusan Muhammad Asad dalam tafsirnya The Message of the Qur'an), yaitu "kesadaran ketuhanan," yang dalam bahasa Arab, sinonim dengan kesadaran rabbaniyyah. Artinya, segala aktivitas individu -termasuk aktivitas politik- disadari sepenuh hati berada dalam bingkai "kesadaran ketuhanan," di mana Tuhan senantiasa mengawasi segala gerak-gerik kita, di mana pun kita berada. Karena, pada dasarnya "Tuhan adalah Maha Hadir" (omnipresent) dalam keseharian hidup kita, termasuk tentu saja "Maha Hadir" dalam aktivitas politik kita.
Maka, tentu kita (lebih-lebih politisi) dituntut untuk berserah diri secara total di bawah cahaya "kesadaran ketuhanan" itu. Sebagaimana terefleksikan dalam firman Tuhan bahwa,
فاينما تولوا فثم وجه الله
"... Ke mana engkau hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah..." (Q.S. Al-Baqarah:115).
Pada surat lain, Allah SWT juga berfirman,
وهو معكم اينما كنتم والله بما تعملون بصير
"Dia (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Maha Periksa akan apa pun yang kamu kerjakan" (Q.S. Al-Hadid:4).
Karenanya, takwa merupakan puncak pengalaman keberagaman, yakni seseorang yang telah menjelma dalam keseharian hidup. Dengan takwa, manusia menyadari bahwa jiwanya perlu dihidupkan kembali dengan pengalaman kehadiran Tuhan.
Dalam Islam, ada yang disebut pesan dasar agama (risalah asasiyah), sebagaimana bunyi Hadits Nabi, al-din al-nashihah. Yakni, agama itu adalah nasihat atau pesan. Pesan dasar agama adalah untuk bertakwa, yakni pesan untuk menghadirkan (kembali) Allah dalam jiwa manusia, yang realisasi konkretnya menjelma dalam aktivitas hidup sehari-hari. Sehingga, perilaku manusia merupakan refleksi dari cerminan sifat-sifat kebaikan Tuhan, seperti pengampun, pemurah, pengasih, penyayang, pemaaf, dan seterusnya. Masalahnya, bagaimana sifat-sifat kebaikan Tuhan itu bisa kita realisasikan dalam hidup kita sehari-hari, terutama dalam aktivitas politik.
Al-Quran sudah menegaskan bahwa takwa merupakan kriteria paling objektif untuk dasar hubungan antar individu, suku, bangsa, ras, dan agama. Takwa mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan:
فاستبقوا الخيرت
(Q.S. Al-Baqarah:148).
Ini berarti, politik yang dibekali dan dilandasi "semangat ketuhanan" (takwa, tauhid, dan al-khuluq al-karim), akan mendorong politisi untuk berlomba-lomba berbuat keadilan, kebenaran, dan lebih berorientasi kepada kebaikan dan kesejahteraan rakyat luas.
Dalam kehidupan politik sehari-hari, takwa dapat diimplementasikan dan direalisasikan dengan bersikap, berperilaku, dan bertindak sesuai dengan norma-norma akhlak yang baik (al-khuluq al-karim), dengan cara meniru perilaku Rasulullah SAW, para sahabat dan tokoh-tokoh teladan lainnya. Dengan al-khuluq al-karim, kehidupan politik di tingkat nasional maupun di daerah tidak akan centang-perenang, karena masing-masing dari kita terikat dengan norma-norma kebaikan, kesopanan, dan kesantunan; baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maupun dari tradisi dan budaya kita.
Gejala itu muncul di tengah kekerasan dan konflik horizontal, dan klaim-klaim sepihak elite politik di tingkat nasional atau di tingkat daerah tentang fungsi dan hak-haknya. Debat politik seperti tak pernah habis ketika dilakukan tanpa agenda yang jelas dan tujuan terukur. Dinamika politik, konflik dan kekerasan bagai terperangkap dalam suatu lingkaran setan seperti debat anak kecil tentang apa yang paling tinggi di antara langit dan rembulan, apa yang paling dulu ada di antara ayam dan telur. Perilaku politik menjadi sebuah tontonan menarik bagaikan sebuah fragmen ketoprak atau ludruk humor yang sebenarnya berbahaya bagi para penontonnya.
Kelemahan kita yang religius dengan mayoritas penduduk Muslim ini ialah ketidaksediaan melakukan kritik terhadap diri sendiri. Hal ini mungkin berkaitan dengan citra diri dalam kebenaran teologis yang mutlak yang secara otomatis disandang seseorang saat menyatakan diri bertindak atas nama Islam dan atas nama Tuhan. Banyak pihak lalu menjadikan massa sebagai pembenar tindakan dan pengesah kedudukannya yang tak bisa dikritik dan diperdebatkan terbuka. Hal ini menyebabkan kita ini sulit memahami akar penyebab berbagai krisis yang melanda kita sejak beberapa tahun lalu.
Sesudah beberapa tahun reformasi, politik nasional dan keagamaan, memasuki babak baru yang enak ditonton dan diberitakan, namun amat melelahkan. Filsuf bahasa terkemuka, Ludwig Witgenstein menyatakan, ilmu tak lebih sebagai permainan bahasa (language game). Jika permainan bahasa dilakukan dengan aturan dan kriteria jelas, politik di negeri ini sekadar "debat kusir" pembenar diri dan sejumlah konsesi politik (juga ekonomi) yang diklaim sebagai hak sepihak.
Masyarakat pun seperti terpola ke dalam belahan politik yang tak jelas.
Politik yang seharusnya menjadi permainan cantik tentang usaha mencapai kompromi untuk tujuan bersama, berubah menjadi politik adu kekuatan. Politik yang seharusnya sebagai permainan meyakinkan banyak pihak, berubah menjadi permainan melakukan tirani hukum dan tirani massa. Tanpa keyakinan, politik adalah seni kegagalan mencapai tujuan di suatu ruang waktu, dan seni membuka ruang baru bagi keberhasilan di saat lain, politik akan berubah menjadi adu tinju dan kekerasan atas nama kebenaran sepihak.
Akibatnya sangat mudah ditebak. Perang kekuatan massa menjadi suatu trend tersendiri dalam rangka mencapai tujuan politik dan kekuasaan. Lalu, dalam menghadapi situasi yang demikian itu, apa yang harus kita kedepankan?
Jawaban terhadap pertanyaan itu sebetulnya mudah, apalagi sebagai Muslim kita memiliki sumber acuan yang mumpuni dan adiluhung. Mengapa kita tidak kembali kepada sumber utama kita yang agung, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah?
Pertama-tama kita seharusnya seharusnya menjadikan orientasi hidup dan objek pengabdian kita hanyalah kepada Allah SWT semata. Kita telah meyakini dan sepakat bahwa kepada Allah SWT-lah orientasi hidup dan tujuan final dari pengabdian kita semua. Oleh karena itu, politik mesti kita jadikan "sarana" atau "instrumen" untuk mencapai tujuan akhir dari hidup ini, yakni Allah SWT.
"Sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kita akan kembali kepada-Nya," begitu bunyi firman Tuhan. Maka, Allah SWT adalah asal dan tujuan hidup dan kehidupan kita, bahkan seluruh makhluk.
Oleh karenanya, kesadaran akan politik yang tiada lain adalah sarana atau instrumen untuk mengabdi kepada Allah, jelas mengandung arti bahwa, politik yang diekspresikan para politisi, lebih-lebih politisi muslim, mesti berangkat dari komitmennya pada tauhid, kepada Allah. Maka, tujuan yang ingin dicapai pun bukanlah “kekuasaan demi kekuasaan”, atau pencapaian target politik tertentu, melainkan sekadar sarana untuk mencapai tujuan politik yang sebenarnya, yakni pengabdian kepada Allah. Dengan kata lain, politik harus ditegakkan di atas prinsip-prinsip tauhid, takwa dan landasan al-khuluq al-karim. Karena, politik tiada lain adalah instrumen untuk mengembangkan ketakwaan kepada Allah.
Dari sini, tauhid, takwa dan al-khuluq al-karim menjadi kata kunci utama dalam aktivitas politik Muslim. Jadi, kalau seseorang (politisi) betul-betul mengikuti etika politik yang bersumber dari ketakwaan kepada Allah SWT (takwa), bertauhid tauhid (sikap pasrah akan keesaan Tuhan dalam keseluruhan hidup), dan berlandaskan al-khuluq al-karim, maka akan menghasilkan sikap-sikap luhur dalam berperilaku dan dalam berdemokrasi. Dengan kata lain, dengan menjadikan paradigma agama (tauhid, takwa dan al-khuluq al-karim) sebagai bekal politik, maka akan lahir tipe-tipe politisi yang demokratis, yang selalu menghargai tidak saja kawan tetapi juga lawan, yang selalu toleran, yang selalu mengedepankan etika, yang selalu menjunjung tinggi semangat inklusivisme di tengah pluralitas SARA.
Dalam perjuangan menegakkan demokrasi (sosial, ekonomi, maupun politik) misalnya, politisi ini akan berpijak pada kesadaran diri-spiritual yang transenden (Islam, Allah SWT). Ketika demokrasi di Barat kering dari cahaya spiritual-keagamaan, maka model demokrasi yang hendak dikonstruksi oleh politisi semacam ini, mungkin identik apa yang oleh Sir Muhammad Iqbal dinamakan "demokrasi-spiritual," yakni demokrasi yang dijiwai oleh kesadaran spiritual-transenden manusia.
Oleh karena itu, takwa memegang kunci pokok dalam aktivitas politikseorang Muslim. Lalu, bagaimana jiwa dan spirit takwa ini inheren dalam aktivitas politik dan kekuasaan manusia? Prof Dr Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, mengatakan bahwa takwa jangan selalu diartikan takut, seperti yang diartikan oleh orang-orang dahulu, sebab takut hanyalah sebagian kecil arti takwa. Maka, Hamka pun menggambarkan aspek yang lebih positif dalam melihat arti takwa. Yakni, dalam takwa itu terkandung sikap-sikap dan perasaan-perasaan positif (seperti cinta, kasih, harap-harap cemas, ridla, sabar dan sebagainya) kepada Allah SWT; di mana kita merasakan kehadiran Allah dalam batin kita, sehingga kita pun selalu dapat berkomunikasi dengan-Nya. Tuhan terasa begitu dekat dan ada bersama kita, sebagaimana terefleksikan dalam firman-Nya yang sangat populer: ان الله معنا (sesungguhnya Allah bersama kita).
Itu sebabnya, perasaan takwa itu mempunyai efek yang sangat mendalam, baik secara politik, yaitu pengawasan melekat dalam aktivitas politik kita sehari-hari, maupun efek secara psikologis yang membuat kita menyatu, dan menyelami keterkaitan psikologis kita secara langsung dengan Allah SWT melalui hati, jiwa.
Karenanya, dalam aktivitas politik manusia, takwa bisa dimaknai sebagai God's Consciousness (sebagaimana rumusan Muhammad Asad dalam tafsirnya The Message of the Qur'an), yaitu "kesadaran ketuhanan," yang dalam bahasa Arab, sinonim dengan kesadaran rabbaniyyah. Artinya, segala aktivitas individu -termasuk aktivitas politik- disadari sepenuh hati berada dalam bingkai "kesadaran ketuhanan," di mana Tuhan senantiasa mengawasi segala gerak-gerik kita, di mana pun kita berada. Karena, pada dasarnya "Tuhan adalah Maha Hadir" (omnipresent) dalam keseharian hidup kita, termasuk tentu saja "Maha Hadir" dalam aktivitas politik kita.
Maka, tentu kita (lebih-lebih politisi) dituntut untuk berserah diri secara total di bawah cahaya "kesadaran ketuhanan" itu. Sebagaimana terefleksikan dalam firman Tuhan bahwa,
فاينما تولوا فثم وجه الله
"... Ke mana engkau hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah..." (Q.S. Al-Baqarah:115).
Pada surat lain, Allah SWT juga berfirman,
وهو معكم اينما كنتم والله بما تعملون بصير
"Dia (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Maha Periksa akan apa pun yang kamu kerjakan" (Q.S. Al-Hadid:4).
Karenanya, takwa merupakan puncak pengalaman keberagaman, yakni seseorang yang telah menjelma dalam keseharian hidup. Dengan takwa, manusia menyadari bahwa jiwanya perlu dihidupkan kembali dengan pengalaman kehadiran Tuhan.
Dalam Islam, ada yang disebut pesan dasar agama (risalah asasiyah), sebagaimana bunyi Hadits Nabi, al-din al-nashihah. Yakni, agama itu adalah nasihat atau pesan. Pesan dasar agama adalah untuk bertakwa, yakni pesan untuk menghadirkan (kembali) Allah dalam jiwa manusia, yang realisasi konkretnya menjelma dalam aktivitas hidup sehari-hari. Sehingga, perilaku manusia merupakan refleksi dari cerminan sifat-sifat kebaikan Tuhan, seperti pengampun, pemurah, pengasih, penyayang, pemaaf, dan seterusnya. Masalahnya, bagaimana sifat-sifat kebaikan Tuhan itu bisa kita realisasikan dalam hidup kita sehari-hari, terutama dalam aktivitas politik.
Al-Quran sudah menegaskan bahwa takwa merupakan kriteria paling objektif untuk dasar hubungan antar individu, suku, bangsa, ras, dan agama. Takwa mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan:
فاستبقوا الخيرت
(Q.S. Al-Baqarah:148).
Ini berarti, politik yang dibekali dan dilandasi "semangat ketuhanan" (takwa, tauhid, dan al-khuluq al-karim), akan mendorong politisi untuk berlomba-lomba berbuat keadilan, kebenaran, dan lebih berorientasi kepada kebaikan dan kesejahteraan rakyat luas.
Dalam kehidupan politik sehari-hari, takwa dapat diimplementasikan dan direalisasikan dengan bersikap, berperilaku, dan bertindak sesuai dengan norma-norma akhlak yang baik (al-khuluq al-karim), dengan cara meniru perilaku Rasulullah SAW, para sahabat dan tokoh-tokoh teladan lainnya. Dengan al-khuluq al-karim, kehidupan politik di tingkat nasional maupun di daerah tidak akan centang-perenang, karena masing-masing dari kita terikat dengan norma-norma kebaikan, kesopanan, dan kesantunan; baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maupun dari tradisi dan budaya kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)